sensasi-vs-prestasi
Opini

Sensasi VS Prestasi, Ironi Dunia Hiburan Tanah Air

(Gambar : Business vector created by pikisuperstar – www.freepik.com)

Beberapa hari belakangan ini, nama Uya Kuya dan Denise Chariesta terlihat meramaikan berbagai media. Sayangnya, itu bukan mengenai hal yang positif. Keluarga Uya Kuya dan Denise Chariesta terlibat konflik. Konflik tersebut tidak hanya dilakukan di dunia nyata, melainkan dibawa dan “dipersembahkan” kepada masyarakat di berbagai platform. Vidio mereka sempat “lewat” beberapa kali di fyp tiktok. Itu hanya satu dari sekian banyak skandal yang mewarnai dunia hiburan tanah air. Contoh lainnya, nama Aldi Taher juga sempat muncul di media dengan judul dan isi pemberitaan yang sensasional. Artis jebolan salah satu ajang pencarian bakat itu sekarang lebih dikenal dengan berbagai “kicauan”nya yang “nyeleneh”.

Dua hal tadi memberikan kita sedikit gambaran mengenai dunia hiburan di Indonesia. Skandal seorang selebriti yang harusnya menjadi sebuah privasi, justru “dikemas” dengan sedemikian rupa dan “dijual” kepada khalayak ramai. Tidak sedikit selebriti Indonesia melakukan hal serupa semata-mata untuk meningkatkan popularitas mereka di tengah ketatnya persaingan dunia hiburan.

Jika dilihat dari sisi selebriti itu sendiri, memang akan ada “permakluman”. Apalagi dari segi pasar, memang ada, bahkan banyak, orang-orang yang suka dengan skandal-skandal artis terlepas dari hanya sebagai bahan basa-basi atau alasan lainnya. Namun perlu diingat bahwa hal-hal tersebut juga dapat dinikmati oleh anak-anak dan remaja. Mereka belum memiliki filter yang baik dalam menyaring dan memilah informasi yang baik, yang buruk, yang patut ditiru, maupun yang harus dijauhi. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, hal-hal yang berbau skandal akan memberi dampak buruk bagi mereka. Ini akan menjadi semakin serius jika skandal itu dengan sengaja dikemas dan dipertontonkan.

Coba bayangkan, aksi saling cibir selebriti satu dengan yang lain menjadi konsumsi anak-anak dan remaja. Mereka akan berpikir bahwa hal tersebut boleh dilakukan tanpa memedulikan situasi dan kondisi sekitar mereka. Akibatnya, mereka tidak akan segan untuk meniru hal tersebut dalam keseharian mereka. Ingat, percaya atau tidak, suka atau tidak suka, selebriti akan menjadi panutan masyarakat.

Daripada menunjukkan hal negatif kepada masyarakat, bukankah akan lebih baik bagi selebriti untuk melakukan hal positif yang memberi manfaat. Kita dapat melihat Agnes Monica sebagai contoh nyata. Ia merupakan salah satu selebriti yang lebih dikenal dengan berbagai bakat yang dimilikinya dan prestasi yang diraihnya. Ia selalu melakukan hal-hal positif seperti menyerukan “kita generasi cinta yang tidak suka melihat orang kesusahan”, “jangan takut untuk bermimpi”, “generasi muda memiliki hak yang sama”, dan masih banyak lagi yang lain. Pesan-pesan tersebut sering ia ungkapkan baik tersurat maupun tersirat dalam aksi dan karyanya. Penghargaan yang pernah diraih di berbagai ajang dan penunjukannya sebagai duta tertentu yang dilakukan berbagai organisasi merupakan bukti nyata prestasinya dalam hal positif. Itu semata-mata untuk memberikan contoh dan pengaruh kepada generasi muda untuk memiliki semangat dan melakukan hal yang serupa untuk kemajuan bangsa.

Sering kali orang yang mengatakan bahwa “karena ada permintaan, makanya ada barang”. Itu berlaku juga di dunia hiburan. Tetapi kita tidak bisa hanya melihat dari hal tersebut. Coba kita lihat dari dampak jangka panjang yang akan diberikan kepada generasi muda nantinya. Oleh karena itu, hal ini perlu menjadi pemikiran mendalam tidak hanya bagi orang tua, tetapi juga bagi pelaku industri hiburan. Apakah kita ingin generasi muda Indonesia hancur atau justru tumbuh menjadi pribadi yang unggul karena sajian hiburan yang diberikan?

Kunjungi juga : Web SMK TI Bali Global Singaraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *